Mussolini, diktator Italia selepas perang dunia pertama (1914-1918). Ditengah kondisi kacau pasca perang, Mussolini berhasil memainkan sentimen nasionalisme, berjanji akan memulihkan ketertiban dan keamanan dan mengembalikan kemakmuran bangsa.
Retorika semacam ini ternyata masih laku!

Mussolini, diktator Italia selepas perang dunia pertama (1914-1918). Ditengah kondisi kacau pasca perang, Mussolini berhasil memainkan sentimen nasionalisme, berjanji akan memulihkan ketertiban dan keamanan dan mengembalikan kemakmuran bangsa.

Retorika semacam ini ternyata masih laku!

I’m singing in the bath in my own house. Not putting out a record or anything. I’m not violating any copyright, or bothering a soul. You’ve got no right to complain.

—Haruki Murakami - “Yesterday”

Di musim pilpres kali ini, banyak sekali ‘kampanye’ via social media. Mereka lupa, mereka bukan siapa-siapa. Tidak akan ada seorang pun yang berubah pilihannya hanya karena melihat postingan facebook mereka. Bahkan Jokowi dan Prabowo pun tidak akan mampu mengubah pendirian calon pemilih melalui debat yang disiarkan TV.

Dan berapa persen pula pengguna internet kita dibanding total jumlah pemilih pada pemilu mendatang?

Ditengah musim capres-capresan yang menjemukan dan Piala Dunia yang menguras energi, ada sebuah oase yang mengobati rindu akan sebuah cerita yang enak dibaca. Adalah Haruki Murakami, ia menulis cerpen baru, judulnya “Yesterday”.
Di cerpen ini, Murakami lagi-lagi memakai lagu Beatles untuk membawa protagonisnya flashback ke masa-masa mudanya: Persahabatan, Kencan, hingga cinta segitiga yang awkward..
silakan baca http://www.newyorker.com/fiction/features/2014/06/09/140609fi_fiction_murakami?currentPage=all&mobify=0

Ditengah musim capres-capresan yang menjemukan dan Piala Dunia yang menguras energi, ada sebuah oase yang mengobati rindu akan sebuah cerita yang enak dibaca. Adalah Haruki Murakami, ia menulis cerpen baru, judulnya “Yesterday”.

Di cerpen ini, Murakami lagi-lagi memakai lagu Beatles untuk membawa protagonisnya flashback ke masa-masa mudanya: Persahabatan, Kencan, hingga cinta segitiga yang awkward..

silakan baca http://www.newyorker.com/fiction/features/2014/06/09/140609fi_fiction_murakami?currentPage=all&mobify=0

SORE di Taman Suropati dan Gigs paling asik tahun ini

Taman Suropati yang teduh di pusat kota Jakarta dihangatkan oleh penampilan salah satu band paling keren di Indonesia: SORE.

Sejatinya, SORE disini adalah sebagai band pembuka bagi Melissa Laveaux, penyanyi Prancis yang didatangkan oleh IFI untuk menutup Printemps Francais (Festival seni budaya Prancis) di Jakarta.

Adapun waktu saya umumkan hal ini via twitter, bahwa akan ada konser gratis di Taman Suropati, ada saja yang bertanya: “mulainya sore ya?”, saya jawab: “enggak, malem, jam 8”. Mungkin mereka kira SORE itu sebagai penanda waktu belaka. Padahal, ya, SORE itu keren dan magis. Jarang-jarang ada Band yang bikin lagu ciamik, dan membuka lagunya dengan lirik seperti ini: “Kulihat Parmin disana…”. Parmin? iya, Parmin. Rasanya cuma SORE yang bisa mengejawantahkan nama seperti Parmin menjadi begitu merdu dan enak didengar.

Liat ini kalau kamu penasaran sama Parmin: http://www.youtube.com/watch?v=fp0SYSRrtsk

Ngomong-ngomong Gigs di Taman Suropati itu ternyata enak banget tempatnya. Nggak cuma buat akustikan, tapi juga format full band elektrik. Syahdu dan intim sekali. Apalagi penampilan penyanyi Prancis nya juga edan, santai tapi skill tinggi. Barangkali ini subjektif, karena saya nontonnya bareng pacar.

Akan tetapi salut buat IFI, khususnya Dimas Jayasrana. Canggih nian gigs nya! Semoga banyak orang mengikuti jejaknya, bikin gigs asik di tempat ini.